Cerita Ivan
Tidak seperti biasanya, ivan, keponakanku yang selalu ceria dan banyak cerita bila pulang sekolah, hari sabtu itu, pulang dengan wajah murung.
Sejak fay berumur satu tahun, ivan pindah rumah dari rumah orang tuanya ke rumah aku. Alasannya adalah karena pengen selalu dekatan dengan fay.
Biasanya sepulang sekolah, dia langsung main dengan fay, tapi hari itu dia langsung naik kekamarnya dan diam disana. Aku merasa pasti ada yang tidak beres disekolahan ivan. Apakah dia bertengkar dengan temannya atau ulangannya mendapat nilai buruk. Aku harus hati-hati bertanya.
Ku ambilkan segelas nutrisari dingin kesukaannya, dan kuantar kekamarnya. Setelah mengetok pintu beberapa kali baru kudengar suara ivan yang serak. Ivan menangis.
"sayang, ini minuman kesukaan mu, minum dulu .."
Aku lihat matanya merah dan bekas air mata masih tertinggal dipipinya.
Ivan baru kelas satu SMP, tapi badannya tinggi dan kurus, lebih tinggi dari aku. Rambutnya ditata jabrik style (istilahku untuk rambut yang berdiri kaku), gaya ABG. Alisnya hitam tebal dan bayangan kumis yang halus sudah kelihatan diatas bibirnya. Aku akui, nanti kalau sudah dewasa ivan akan menjadi cowo yang ganteng. Pasti banyak peminatnya nya.
Diminumnya minuman yang kubawa seteguk demi seteguk, seakan dia ingin merasakan kesegaran minuman dingin itu. Setelah habis dia menarik nafas panjang, seperti hendak melepaskan beban berat yang menindih dadanya.
"OK sayang, mau makan dulu atau mau cerita dulu .. ??"
"Ivan blom mau makan mama tita, lapar sich udah tapi gak pengen makan .."Ivan tidak mau memanggilku tante, tapi dia selalu memanggilku mama atau mama tita, dan andi dia panggil papa andi. Fay dipanggil adek.
"Ceritakan ama mama, apa yang membuatmu gak bisa makan ..?"
"(setelah agak lama diam).. kesel ama ibu guru mama, kata ibu guru, tadi ada yang nelpon kesekolah, bilang kalo si doni meninggal, ngakunya sich tantenya si doni, trus kita semua disuruh bu guru ngumpulin sumbangan dari duit jajan, semua kasih sumbangan, ada yang semua duit jajannya dikasihin, sampai si alu gak jajan, pada hal dia lapar dan jadi pusing, trus istrirahat siang, si putri, dina dan sofi pergi kerumah doni, ternyata dia gak meninggal, ternyata dia sakit mata, tadi yang telpon tantenya, dia liat doni tidur gak bergerak, trus dia telpon sekolahan. Trus duit sumbangan gak jadi dikasih, eh malah ama ibu guru mau disumbangin ke mesjid aja. Mestinya duit kita dikembaliin khan ma, curang ibu guru .. dan bla .. bla .. bla .." ivan nyerocos terus sambil marah-marah. Air mata nya kembali menggenang di matanya.
"Lagian tantenya si doni kurang kerjaan, gak periksa periksa dulu, asal telpon aja, ibu guru curang banget .. kita gak punya uang untuk jajan lagi, semua disumbangin, ibu guru curang .."
Fay bengong ngelihat ivan ngomel, masalahnya belum pernah dia ngelihat ivan begitu.
"bu lu culaang .. bu lu culaang ..?" Fay mengulang–ngulang kata ivan, sambil mengosok-gosok kaki kakaknya.
Dalam hati aku merasa geli banget, pengen ketawa, mendengar fay bicara dan melihat mimiknya yang lucu tapi serius, pengen ketawa mengingat tingkah ivan, hal kecil aja membuat emosinya meledak seperti itu. Memang demikian, emosi anak seumur ivan sedang susah dikontrol.
"Lha .. kenapa gak dicek dulu baru kumpulin duit sumbangan .. " aku nyeletuk sambil memasang wajah yang sedih dan prihatin."
"yaa .. itu tuh, bu guru, gak mau denger ivan ngomong. Ivan dah ingatin dia koq mama, biar di datangi dulu, baru kita nyumbang, tapi bu guru maksa .."
Aku tahu, sebagai ketua kelas, ivan sangat bertanggung jawab, tentu dia kesal banget karena tidak didengar pendapatnya oleh bu guru nya, tentu teman2 nya juga kesal dan marah karena mereka tidak bisa jajan. Aku juga tahu, bagi mereka jajan itu penting banget, kadang untuk menghilangkan stress selama jam pelajaran, kumpul dikantin dan ketawa ketiwi.
"Oke sayang, tidak usah kamu pikirkan, mungkin ibu guru khilaf karena panik. Yang jelas kamu gak jadi kehilangan teman khan, kehilangan duit masih bisa dicari, kehilangan teman khan susah dicari gantinya, betul gak .., lagian duit disumbangin kemesjid bukankah itu amalan, berpahala?"
"Sekarang cuci muka, wudhu, sholat lohor, trus kita makan ya, mama, papa andi dan fay juga blom makan, nunggu kamu dari tadi, oke, mama tunggu dibawah ya .."
Lama dia berdiam diri mungkin merenungkan apa yang aku katakan dan setelah menarik nafas panjang, ivan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Aku segera turun kebawah bersama fay. Mas sudah menunggu di ruang keluarga, menunggu berita apa yang akan kusampaikan. Mas tidak bertanya, tapi dari pandangan matanya aku tahu, mas sudah tidak sabar menunggu cerita ku.
Sejak fay berumur satu tahun, ivan pindah rumah dari rumah orang tuanya ke rumah aku. Alasannya adalah karena pengen selalu dekatan dengan fay.
Biasanya sepulang sekolah, dia langsung main dengan fay, tapi hari itu dia langsung naik kekamarnya dan diam disana. Aku merasa pasti ada yang tidak beres disekolahan ivan. Apakah dia bertengkar dengan temannya atau ulangannya mendapat nilai buruk. Aku harus hati-hati bertanya.
Ku ambilkan segelas nutrisari dingin kesukaannya, dan kuantar kekamarnya. Setelah mengetok pintu beberapa kali baru kudengar suara ivan yang serak. Ivan menangis.
"sayang, ini minuman kesukaan mu, minum dulu .."
Aku lihat matanya merah dan bekas air mata masih tertinggal dipipinya.
Ivan baru kelas satu SMP, tapi badannya tinggi dan kurus, lebih tinggi dari aku. Rambutnya ditata jabrik style (istilahku untuk rambut yang berdiri kaku), gaya ABG. Alisnya hitam tebal dan bayangan kumis yang halus sudah kelihatan diatas bibirnya. Aku akui, nanti kalau sudah dewasa ivan akan menjadi cowo yang ganteng. Pasti banyak peminatnya nya.
Diminumnya minuman yang kubawa seteguk demi seteguk, seakan dia ingin merasakan kesegaran minuman dingin itu. Setelah habis dia menarik nafas panjang, seperti hendak melepaskan beban berat yang menindih dadanya.
"OK sayang, mau makan dulu atau mau cerita dulu .. ??"
"Ivan blom mau makan mama tita, lapar sich udah tapi gak pengen makan .."Ivan tidak mau memanggilku tante, tapi dia selalu memanggilku mama atau mama tita, dan andi dia panggil papa andi. Fay dipanggil adek.
"Ceritakan ama mama, apa yang membuatmu gak bisa makan ..?"
"(setelah agak lama diam).. kesel ama ibu guru mama, kata ibu guru, tadi ada yang nelpon kesekolah, bilang kalo si doni meninggal, ngakunya sich tantenya si doni, trus kita semua disuruh bu guru ngumpulin sumbangan dari duit jajan, semua kasih sumbangan, ada yang semua duit jajannya dikasihin, sampai si alu gak jajan, pada hal dia lapar dan jadi pusing, trus istrirahat siang, si putri, dina dan sofi pergi kerumah doni, ternyata dia gak meninggal, ternyata dia sakit mata, tadi yang telpon tantenya, dia liat doni tidur gak bergerak, trus dia telpon sekolahan. Trus duit sumbangan gak jadi dikasih, eh malah ama ibu guru mau disumbangin ke mesjid aja. Mestinya duit kita dikembaliin khan ma, curang ibu guru .. dan bla .. bla .. bla .." ivan nyerocos terus sambil marah-marah. Air mata nya kembali menggenang di matanya.
"Lagian tantenya si doni kurang kerjaan, gak periksa periksa dulu, asal telpon aja, ibu guru curang banget .. kita gak punya uang untuk jajan lagi, semua disumbangin, ibu guru curang .."
Fay bengong ngelihat ivan ngomel, masalahnya belum pernah dia ngelihat ivan begitu.
"bu lu culaang .. bu lu culaang ..?" Fay mengulang–ngulang kata ivan, sambil mengosok-gosok kaki kakaknya.
Dalam hati aku merasa geli banget, pengen ketawa, mendengar fay bicara dan melihat mimiknya yang lucu tapi serius, pengen ketawa mengingat tingkah ivan, hal kecil aja membuat emosinya meledak seperti itu. Memang demikian, emosi anak seumur ivan sedang susah dikontrol.
"Lha .. kenapa gak dicek dulu baru kumpulin duit sumbangan .. " aku nyeletuk sambil memasang wajah yang sedih dan prihatin."
"yaa .. itu tuh, bu guru, gak mau denger ivan ngomong. Ivan dah ingatin dia koq mama, biar di datangi dulu, baru kita nyumbang, tapi bu guru maksa .."
Aku tahu, sebagai ketua kelas, ivan sangat bertanggung jawab, tentu dia kesal banget karena tidak didengar pendapatnya oleh bu guru nya, tentu teman2 nya juga kesal dan marah karena mereka tidak bisa jajan. Aku juga tahu, bagi mereka jajan itu penting banget, kadang untuk menghilangkan stress selama jam pelajaran, kumpul dikantin dan ketawa ketiwi.
"Oke sayang, tidak usah kamu pikirkan, mungkin ibu guru khilaf karena panik. Yang jelas kamu gak jadi kehilangan teman khan, kehilangan duit masih bisa dicari, kehilangan teman khan susah dicari gantinya, betul gak .., lagian duit disumbangin kemesjid bukankah itu amalan, berpahala?"
"Sekarang cuci muka, wudhu, sholat lohor, trus kita makan ya, mama, papa andi dan fay juga blom makan, nunggu kamu dari tadi, oke, mama tunggu dibawah ya .."
Lama dia berdiam diri mungkin merenungkan apa yang aku katakan dan setelah menarik nafas panjang, ivan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Aku segera turun kebawah bersama fay. Mas sudah menunggu di ruang keluarga, menunggu berita apa yang akan kusampaikan. Mas tidak bertanya, tapi dari pandangan matanya aku tahu, mas sudah tidak sabar menunggu cerita ku.