http://danausunyi.blogspot.com

Thursday, December 08, 2005

Cerita Ivan

Tidak seperti biasanya, ivan, keponakanku yang selalu ceria dan banyak cerita bila pulang sekolah, hari sabtu itu, pulang dengan wajah murung.
Sejak fay berumur satu tahun, ivan pindah rumah dari rumah orang tuanya ke rumah aku. Alasannya adalah karena pengen selalu dekatan dengan fay.
Biasanya sepulang sekolah, dia langsung main dengan fay, tapi hari itu dia langsung naik kekamarnya dan diam disana. Aku merasa pasti ada yang tidak beres disekolahan ivan. Apakah dia bertengkar dengan temannya atau ulangannya mendapat nilai buruk. Aku harus hati-hati bertanya.

Ku ambilkan segelas nutrisari dingin kesukaannya, dan kuantar kekamarnya. Setelah mengetok pintu beberapa kali baru kudengar suara ivan yang serak. Ivan menangis.
"sayang, ini minuman kesukaan mu, minum dulu .."
Aku lihat matanya merah dan bekas air mata masih tertinggal dipipinya.
Ivan baru kelas satu SMP, tapi badannya tinggi dan kurus, lebih tinggi dari aku. Rambutnya ditata jabrik style (istilahku untuk rambut yang berdiri kaku), gaya ABG. Alisnya hitam tebal dan bayangan kumis yang halus sudah kelihatan diatas bibirnya. Aku akui, nanti kalau sudah dewasa ivan akan menjadi cowo yang ganteng. Pasti banyak peminatnya nya.
Diminumnya minuman yang kubawa seteguk demi seteguk, seakan dia ingin merasakan kesegaran minuman dingin itu. Setelah habis dia menarik nafas panjang, seperti hendak melepaskan beban berat yang menindih dadanya.

"OK sayang, mau makan dulu atau mau cerita dulu .. ??"
"Ivan blom mau makan mama tita, lapar sich udah tapi gak pengen makan .."Ivan tidak mau memanggilku tante, tapi dia selalu memanggilku mama atau mama tita, dan andi dia panggil papa andi. Fay dipanggil adek.
"Ceritakan ama mama, apa yang membuatmu gak bisa makan ..?"
"(setelah agak lama diam).. kesel ama ibu guru mama, kata ibu guru, tadi ada yang nelpon kesekolah, bilang kalo si doni meninggal, ngakunya sich tantenya si doni, trus kita semua disuruh bu guru ngumpulin sumbangan dari duit jajan, semua kasih sumbangan, ada yang semua duit jajannya dikasihin, sampai si alu gak jajan, pada hal dia lapar dan jadi pusing, trus istrirahat siang, si putri, dina dan sofi pergi kerumah doni, ternyata dia gak meninggal, ternyata dia sakit mata, tadi yang telpon tantenya, dia liat doni tidur gak bergerak, trus dia telpon sekolahan. Trus duit sumbangan gak jadi dikasih, eh malah ama ibu guru mau disumbangin ke mesjid aja. Mestinya duit kita dikembaliin khan ma, curang ibu guru .. dan bla .. bla .. bla .." ivan nyerocos terus sambil marah-marah. Air mata nya kembali menggenang di matanya.
"Lagian tantenya si doni kurang kerjaan, gak periksa periksa dulu, asal telpon aja, ibu guru curang banget .. kita gak punya uang untuk jajan lagi, semua disumbangin, ibu guru curang .."
Fay bengong ngelihat ivan ngomel, masalahnya belum pernah dia ngelihat ivan begitu.
"bu lu culaang .. bu lu culaang ..?" Fay mengulang–ngulang kata ivan, sambil mengosok-gosok kaki kakaknya.

Dalam hati aku merasa geli banget, pengen ketawa, mendengar fay bicara dan melihat mimiknya yang lucu tapi serius, pengen ketawa mengingat tingkah ivan, hal kecil aja membuat emosinya meledak seperti itu. Memang demikian, emosi anak seumur ivan sedang susah dikontrol.

"Lha .. kenapa gak dicek dulu baru kumpulin duit sumbangan .. " aku nyeletuk sambil memasang wajah yang sedih dan prihatin."
"yaa .. itu tuh, bu guru, gak mau denger ivan ngomong. Ivan dah ingatin dia koq mama, biar di datangi dulu, baru kita nyumbang, tapi bu guru maksa .."
Aku tahu, sebagai ketua kelas, ivan sangat bertanggung jawab, tentu dia kesal banget karena tidak didengar pendapatnya oleh bu guru nya, tentu teman2 nya juga kesal dan marah karena mereka tidak bisa jajan. Aku juga tahu, bagi mereka jajan itu penting banget, kadang untuk menghilangkan stress selama jam pelajaran, kumpul dikantin dan ketawa ketiwi.

"Oke sayang, tidak usah kamu pikirkan, mungkin ibu guru khilaf karena panik. Yang jelas kamu gak jadi kehilangan teman khan, kehilangan duit masih bisa dicari, kehilangan teman khan susah dicari gantinya, betul gak .., lagian duit disumbangin kemesjid bukankah itu amalan, berpahala?"
"Sekarang cuci muka, wudhu, sholat lohor, trus kita makan ya, mama, papa andi dan fay juga blom makan, nunggu kamu dari tadi, oke, mama tunggu dibawah ya .."
Lama dia berdiam diri mungkin merenungkan apa yang aku katakan dan setelah menarik nafas panjang, ivan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Aku segera turun kebawah bersama fay. Mas sudah menunggu di ruang keluarga, menunggu berita apa yang akan kusampaikan. Mas tidak bertanya, tapi dari pandangan matanya aku tahu, mas sudah tidak sabar menunggu cerita ku.

Tuesday, October 18, 2005

Dirumah Dhea

Jam lima kurang sepuluh menit, mas dan fay serta suster sudah mangkal di kantorku. Aku sering mengajak fay kekantor dihari sabtu, kalau memang aku perlu masuk, jadi dia tidak canggung lagi. Dengan tertatih dan semangat, dia naik tangga ke lantai dua, keruang kerja ku. Kantorku diperumahan dan mejaku ada dilantai dua, dilantai satu lobby dan ruangan kelas untuk training. Kalo naik pake tangga bukan escalator seperti kantor ku di matraman dulu.
Fay masuk ruangan ku seperti orang perang menyerbu musuh, pintu didobrak sampai terpentang lebar dan dengan gagah dia berdiri ditengah pintu sambil tereak .... "mamaaaaaa .."
Boss ku terlompat dari duduknya mendengar suara lantang fay. Segera dia berdiri dan menghampiri anakku, menggendongnya dan mengglitik perutnya. Fay tertawa terpingkal-pingkal kegelian. Boss ku sayang banget ama fay, maklum, dia dah lima tahun merit belum juga punya anak. Orang-orang dikantor bilang bahwa istrinya tidak bisa memberikan keturunan.
Aku segera berbenah, fay asik main dengan boss ku dan teman-teman yang lain, sepertinya tidak peduli lagi dengan ku.
Jam lima tepat, aku mengajak fay turun kebawah dan kita langsung kabur menuju rumah dhea.
Lima menit lagi bedug magrib, kita memasuki halaman rumah dhea yang luas, maklum putri tunggal orang the have.
Teman-teman dah pada ngumpul, antara lain sandy, amran, sonny, diana, anton, yanti, ada beberapa anak finance dan beberapa anak baru yang aku belum kenal. Tak ketinggalan nina, sahabatku dan adik iparku.
Rasanya sudah seabad gak ketemu mereka. Begitu kita masuk ruangan, semua berebut ingin menggendong fay, ada yang mencubit pipinya, ada yang gelitik perutnya, pokoknya fay jadi pusat perhatian.
Begitu banyak yang dibicarakan, begitu banyak yang diceritakan, begitu banyak kenangan dan begitu indahnya pertemuan ini.
Setelah berbuka, minum es puding santan yang gurihnya selangit maka kita sholat magrib berjamaah dengan mas sebagai imam. Selesai sholat dan berdoa, kita menyerbu makanan yang telah tersedia dimeja. Makanannya enak semua, gak tahu mana yang akan dimakan duluan, semua pengen dicicipi. Makan sambil bercanda, sehingga suasana dirumah dhea seperti di café, hiruk pikuk. Setelah kenyang, kita ngobrol rame-rame kemudian para cowo, sholat isya dan tarawih, mas sebagai imam lagi. Kita cewe cewe pada ngerumpi sambil ketawa ketiwi. Fay bermain bersama anak-anak yang lain dengan pengawasan para baby sitter. Ada lima anak balita termasuk fay ikut dipertemuan ini. Suasana sangat riang, ketawa para ibu dan bapak, diselingi dengan jerit lengking balita, sungguh suatu suasana yang meriah.
Jam sepuluh, kita pamit, berpelukan seakan gak bakalan ketemu lagi. Sebelum pulang dhea masih sempat berbisik .. "ta, kamu beruntung, punya misoa tampan, pintar, baik hati, ramah dan sholeh pula." Alhamdulillah.